Oreo

Oreo
Siapa yang ngga suka Oreo?

Jumat, 26 Mei 2017

Poster Ilmiah Pertama

Kurang lebih satu setengah tahun yang lalu aku mengikuti lomba yang diselenggarakan oleh AMSA-Indonesia.  Nama acaranya adalah Indonesia Medical Student Training and Competition, tuan rumahnya adalah AMSA-Universitas Brawijaya. Jadi waktu itu aku punya yaa bisa dibilang impian kalau nanti waktu acara di Malang bakal banyak delegasi dari kampusku. Karena sedih aja misal keluar kota tapi yang nemenin dikit. Kesempatan itu adalah perjalanan keluar kota kesekian kalinya buat diriku tanpa beserta keluarga. Seneng banget rasanya bisa ke Malang, apalagi ini edisi pertamaku kesana. Singkat kata aku berusaha mengajak serta meyakinkan teman-teman kampusku untuk berangkat juga. Segala macam cara aku coba mulai dari promosi kegiatan apa aja yang bakal dilakuin, jelasin serunya explore Kota Malang, sampe cara terakhir yang diluar prediksi sih haha. Cuma jangan salah lho, justru langkah out of the box itulah yang berhasil menarik dua delegasi tambahan. Pasti ngga masuk radar perkiraan nih yaa haha. Yah, adalah dengan mengajak ikutan lomba. Orang yang ngga pernah bikin karya ilmiah tiba-tiba "maksain' temen ngehasilin


sebuah poster ilmiah. Nice Job Prima! Panjang cerita setelah berhasil "menghasut" hehehe aku beserta dua teman baikku yaitu Rizka Febriana serta Ririn Puspita ikut lomba poster ilmiah. Dengan beberapa kali diskusi baik lewat media sosial maupun ketemu langsung, lalu dibuat dalam secarik kertas digital. AKHIRNYA haha inilah hasil karya kami, makasih sebesar-besarnya buat Rizka dan Ririn yang mau nemenin buat poster ini juga nemenin jalan-jalannya di Malang. Kali pertama bikin karya yang ilmiah gini. Jujur buat aku pribadi ini merupakan pembelajaran dan pengalaman yang sangat-sangat berharga. Aku banyak belajar dari Rizka sama Ririn, btw mereka itu pinter banget lho pokoke juara kampus deh.

Terhipnotis, oleh Pangkalpinang-mu

Terhipnotis, oleh Pangkalpinang-mu
oleh Nugroho Saputro

Memang, ada apa sih dengan tanah Bangka? Apalagi ibukotanya itu tuh, Pangkalpinang? Ternyata, tanah Bangka banyak menyimpan pesona yang belum kita jamah. Sehingga, Bangka, terutama #pesonapangkalpinang nya patut dijelajahi inchi per inchi bagi wisatawan maupun pecinta traveling serta kuliner. Bangka tak hanya soal komoditas timahnya, yang menjadikan Indonesia menjadi lima besar tulang punggung dunia atas komoditas tersebut. Timah Bangka begitu melegenda. Ditemukan dalam bentuk deposit yang besar pada sekitar abad ke-18, membuat eksploitasi tambah timah menjadi booming di Bangka. Terlebih ketika negara penjajah Belanda lagi dalam keadaan “Miskin” akibat Perang Diponegoro dan juga pendudukan Napoleon, membuat Timah Bangka langsung disedot dan dikirim ke Eropa. Sehingga, perekonomian Belanda secepat kilat menjadi kuat, bahkan disegani dunia, berkat tambang-tambang yang ada di negeri ini, termasuk Timah Bangka. Namun, kita patut beruntung karena penjajah Belanda dan Jepang tidak menyedot habis deposit timah yang ada di Bangka. Karena, sampai saat ini, Indonesia masih menikmati besarnya deposit timah yang ada di bumi Bangka.

Memang ada apa sih dengan kehidupan masyarakat Bangka, terutama penduduk Kota Pangkalpinang? Dengan #pesonapangkalpinang nya, mampu membuat masyarakatnya menjunjung tinggi persatuan di dalam kebhinekaan. Etnis Melayu dan Tionghoa yang merupakan mayoritas, disusul oleh para etnis-etnis lainnya yang ada di Indonesia, cukup memberikan warna kemajemukan demografi masyarakat Pangkalpinang dan Bangka sendiri. Hal tersebut dapat terlihat dengan banyaknya rumah peribadatan yang dibangun secara berdampingan. Ketika terjadi hari-hari besar keagamaan, tak jarang seluruh masyarakat bahu-membahu mengamankan tempat peribadatan tersebut guna rangkaian acara untuk memperingati hari-hari besar keagamaan tersebut dapat berjalan dengan lancar. Malahan, sebagian warga yang beragama lain pun turut membantu mengamankan acara tersebut. Berbagai festival, seperti festival Ruwahan, festival menyambut semarak bulan Ramadhan, dan festival Barongsai menyambut Imlek, tak jarang diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang etnis dan agama. Semua lapisan masyarakat mengikuti acara tersebut dengan antusias yang tinggi. Sehingga, acara festival berlangsung dengan semarak yang atraktif dan juga lancar. Sehingga cocok menjadi tontonan yang menghibur, baik bagi masyarakat Kota Pangkalpinang sendiri maupun wisatawan yang sedang melepas penatnya di Kota yang memang penuh dengan cerita tersebut.
  
Tak hanya melulu soal toleransi agama, namun juga keseharian masyarakat Kota Pangkalpinang yang seolah tidak dapat hidup secara individualisme. Hal tersebut dapat terlihat di waktu pagi. Dimana, warung kopi menjadi semacam oase bagi masyarakat Kota Pangkalpinang untuk bercengkerama sekaligus bersosialisasi. Tak jarang, istilah ngerumpi, yang merupakan kebiasaan kaun hawa, juga berlaku bagi kaum Adam ketika kongkow-kongkow bersama masyarakat Kota Pangkalpinang lainnya. Beragam topik pun dibicarakan, biasanya merupakan pemberitaan terkini. Seperti, sepak terjang si Ahok yang merupakan putra daerah Bangka menjadi Gubernur DKI Jakarta, lalu pro-kontra soal kebijakan Ahok dalam memimpin DKI Jakarta, lalu berlanjut tentang Walikota Pangkalpinang sendiri yang konon katanya merupakan sosok yang visioner dan pernah menempuh pendidikan menengah atasnya di salah satu sekolah boarding school di Kota Bandung, dan beragam polemik sosial-masyarakat lainnya. Bahkan, Artika Sari Devi yang konon katanya merupakan putri Bangka asli pun tak luput dari perbincangan setelah ia meraih posisi 15 besar di ajang Miss Universe yang pada saat itu dihelat di Thailand. Dan, banyak topik lain yang dapat menjadi perbincangan, seperti politik, korupsi dan berbagai topik lainnya. Sehingga, tak ada salahnya bagi para turis untuk mencoba merasakan pagi di Kota Pangkalpinang dengan menyerumput kopi di warung kopi, sembari bercengkerama dengan penduduk asli Kota Pangkalpinang. Dan, menjelang jam setengan sembilan, baru warung-warung kopi perlahan-lahan menjadi sepi. Dimana, selepas kongkow-kongkow, barulah denyut nadi aktivitas masyarakat dan perekonomian di Kota Pangkalpinang menampakkan geliatnya.
  
Sebagai bagian dari cerita perjuangan kemerdekaan, rasanya tak pas jika tidak mengikutsertakan Bangka, yang merupakan tempat pembuangan para founding fathers serta pejuang nasional lainnya oleh Belanda. Namun sayang, rumah bersejarah tersebut terletak di Muntok, dimana keberadaannya cukup jauh dari Kota Pngkalpinang sendiri. Namun, bagi pecinta sejarah dan pengagum arsitektur Belanda, Kota Pangkalpinang juga menawarkan bangunan ikonik yang pasti akan dibuat terkesan. Seperti, Menumbing Heritage Hotel, dengan eksterior kolonialismenya yang kental namun kontras dengan interiornya yang bernuansa Jepang. Selain itu, ada juga Latrasee Bistro atau House of Lay. Berdiri sejak 1860, bangunan yang memadukan nuansa Melayu dan Hakka, oleh pengelolanya diusahakan agar dapat tembus sebagai Bangunan Cagar Budaya UNESCO. Jangan pula lupakan Museum Timah Bangka sebagai destinasi yang wajib dikunjungi. Dimana, wisatawan dapat mengetahui perjalanan Bangka Belitung, dari yang awalnya merupakan wilayah agraris, lalu menjadi wilayah yang bergantung kepada Timah, dan kini bermetamorfosa menjadi wilayah yang perekonomiannya berkembang pesat. Dimana, sektor sekunder dan tersier, terutama industri jasa dan pariwisata mendominasi perekonomian Bangka Belitung dan tidak lagi sepenuhnya bersandar pada Timah seutuhnya. Mengingat, masyarakat Bangka kini sadar, bahwa Timah merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui serta dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat aktivitas penambangan Timah itu sendiri bagi lingkungan.

Bangka Belitung tak hanya melulu tentang Pantai Parai yang memang sudah tersohor. Masih ingatkah dengan booming film Laskar Pelangi? Dimana, film tersebut menampilkan latar keindahan pesona Pantai Tanjung Tinggi, Pantai Tanjung Kelayang, dan SD Muhammadiyah. Namun sayangnya, objek wisata tersebut terletak di Belitung. Sehingga, perlu menyeberang laut untuk menuju kesana. Lalu, bagaimana dengan #pesonapangkalpinang nya sendiri? Sebagai kota yang terletak di pesisir, Kota Pangkalpinang menawarkan berbagai pantai yang begitu memukau wisatawan. Masih ada Pantai Pasir Padi dan Pantai Tanjung Bunga, yang menawarkan pemandangan spektakuler, tak kalah indahnya dibandingkan Pantai Parai maupun Bali yang memang sudah tersohor ke seluruh dunia. Tak hanya objek wisata semata, kedua pantai tersebut juga menawarkan resort bagi para wisatawan yang memang sedari tujuan awalnya ingin bermalas-malasan dan berlibur di Kota Pangkalpinang dan sekitarnya. Menyediakan fasilitas yang mampu membuat wisatawan merasa begitu dimanjakan, seperti hotel yang nyaman, restoran, fasilitas jetski, fasilitas diving, dan lain-lain hingga wisatawan dibuat betah. Bagi yang butuh udara segar dan pemandangan hijau, Bangka Botanical Garden dan Tamansari bisa menjadi alternatif untuk dikunjungi. Tak hanya untuk mencari oksigen, namun juga berolahraga sekaligus bercengkerama dengan masyarakat sekitar.


Salah satu tempat peribadatan yang ada di Kota Pangkalpinang. Sumber: http://poskotanews.com/cms/wp-content/uploads/2016/07/pangkalpinang-satya-budhi-700x400.jpg

Bagaimana dengan kuliner di Kota Pangkalpinang? Tak perlu pergi jauh-jauh ke Mong Kok, Hong Kong maupun ke Singapura. Bangka adalah surganya Chinese Food serta aneka oleh-oleh. Sebagai bagian dari bekas pemekaran Provinsi Sumatera Selatan dan juga banyaknya etnis Tionghoa yang telah menjadi bagian dari masyarakat Provinsi Bangka Belitung, terutama Kota Pangkalpinang, makanan berbahan ikan belida dan gurami, serta bau-bau kecap ikan, kecap asin, angchiu, kecap santa, kecap inggris, dan bumbu crot-crotan lainnya lazim ditemui. Seperti Pempek, Tekwan, Martabak Bangka, dan Mie Bangka. Namun, sebaiknya cobalah Mie Bangka saat berada di Bangka, karena keotentikan Mie Bangka tetap terjaga dan berbeda dengan Mie Bangka di daerah yang lain. Demikian juga dengan dominasi Seafood yang tak kalah nendang. Dimana, jajanan tersebut cukup banyak dijumpai di jalanan Kota Pangkalpinang itu sendiri. Selain Chinese Food dan Seafood, wisatawan juga wajib mencoba masakan melayu khas Bangka, salah satunya ialah Lempah Kuning. Walau termasuk dalam kategori Seafood, dijamin ikan bebas bau amis. Bahkan sangat enak dan terasa segar jika ikan yang digunakan langsung diambil dari laut. Terlebih lagi ditambah dengan tomat hijau dan potongan nanas, menambah rasa asam dan segar. Sehingga sangat cocok disantap dengan nasi panas, baik untuk makan siang maupun makan malam.

Puas berkeliling Kota Pangkalpinang, saatnya menjajal kuliner yang dapat dijadikan oleh-oleh dari Kota Pangkalpinang. Beragam hasil olahan buah dan seafood diolah sedemikian rupa oleh masyarakat Kota Pangkalpinang untuk para wisatawan sebagai buah tangan, seperti Keripik Singkong Riski, Abon Cabe Adinda, Piang Nanas Cap Ed, Keripik Cumi Kering Nina, Siput Gung-gung, Asinan Kelubi, Getas, Sambelingkung Ikan Kakap dan Tenggiri, serta Kemplang. Memang, kuliner serta oleh-oleh khas Bangka terkenal akan ragam pilihan. Sehingga, membuat para wisatawan bingung mau memilih yang mana. Namun, bagi pecinta cita rasa gurih, pedas, dan asam, kuliner Bangka memang patut untuk dicoba.

Memang tak semua, namun itulah #pesonapangkalpinang yang dapat memikat wisatawan. Begitu indah, seakan-akan secuil kahyangan turun langsung ke Nusantara tercinta melalui tanah Bangka. Walaupun telah puas dijelajahi, namun pada akhirnya akan membuat para wisatawan maupun traveler kembali lagi ke tanah Bangka karena telah terhipnotis oleh #pesonapangkalpinang yang tak akan terlupakan.... 

Sabtu, 15 Juni 2013

Ujian Tanda Pembuktian

Teet... bel tanda berakhirnya ujian berbunyi sudah menegurku yang masih berjuang mengerjakan soal-soal ujian. Ini hari terakhir bagi kami siswa-siswi SMA Terpadu Krida Nusantara menghadapi Ujian Kenaikan Kelas. Kebetulan di hari terakhir ini Mata Pelajaran Fisika Menjadi batu sandungan terakhir sebelum kami bisa "bernafas lega". Entah malang atau gimana? kali ini aku  si penulis tidak bisa menyelesaikan semua soal Fisika tadi. Malangnya lagi, sebenarnya aku bisa ngerjain soal itu (bukan sombong...) tapi karena waktunya nggak cukup akhirnya terpaksa nembak. Mending kita benar-benar nggak bisa kan? karena dari awal bisa langsung milih jawaban sembari membaca doa biar hokinya gede. Sudahlah apa gunanya mikirin begituan padahal tidak merubah buletan yang tadi sudah diisi.
   Begitulah prolognya sekarang penulis ingin bercerita tentang "Ujian Tanda Pembuktian". Si Penulis kebetulan pelajar liat aja tuh yang di foto background masih muka seorang siswa kan?. Hampir 11 tahun aku duduk dibangku sekolah dengan keanekaragaman ceritanya mulai pernah dapet nilai bagus terus-terusan kaya' marathon gitu sampai pernah terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Meski ada yang beda tapi di setiap tahun si penulis pasti diajarin dulu materi baru diuji ngerti atau nggak. Aku pernah ketemu sama orang yang keliatannya jarang belajar tapi selalu dapat nilai bagus. Orang inilah yang terkadang bikin iri teman-temannya. Makanya guru kita sering bilang kalau kita belajar itu yang penting bukan hasil akhir tapi usahanya. Penulis boleh dikata punya pendapat yang sama tentang itu.
   Ketika kita sudah belajar tapi hasil yang didapat mungkin tidak sesuai harapan bisa penulis simpulkan bahwa mungkin memang belum waktunya. Misal kita sudah belajar materi tentang trigonometri kemudian kita bisa menyelasaikan permasalahan itu saat belajar malam. Dengan begitu kita sudah memenuhi indikator kurikulum pembelajaran yaitu mengerti dan memahami. Disaat ujian kita salah dalam menghitung atau bagaimana itu adalah kesalahan kecil yang bisa disebut keberuntungan. Bisa dan mengerti indikator dari pembelajaran mengindikasikan bahwa kita telah lulus sebagai seorang pelajar!. Itulah pendapat dari penulis, terserah mau setuju atau tidak. Sebenarnya sih penulis tetap saja ingin dapat nilai bagus jadi tujuannya ya nilai bagus. Hmm rasanya aku kaya' menggurui gitu jadi nggak enak nih, tujuan dari dibuatnya artikel buat nunjukin pendapat aku pribadi tentang hasil akhir yang sering disebut nilai. Begitulah sampai disini ceritanya... sebelum pamit doakan penulis dapat nilai bagus di akhir tahun pelajaran 2012-2013 ini terima kasih. (Prima SMAT-KN)

Rabu, 20 Maret 2013

Basket : Strategi Quick Thinking

Baru-baru ini aku menjajal permainan bola basket yang rumit itu. Ternyata game ini tidaklah semudah seperti yang dibayangkan olehku sebelumnya. Kalau misal buat sepakbola pemain belakang atau sering disebut bek bisa bersantai-ria jika kesebelasannya sedang berada didaerah pertahanan lawan. Meski terkadang pelatih mengintruksikan beknya untuk membantu para penyerang mencetak gol. Contoh selanjutnya adalah Bulutangkis yang sering dimainkan oleh orang Indonesia, dalam olahraga ini kita sendirilah yang menentukan permainan tidak perlu mengurusi orang lain.
Pembicaraannya jadi melenceng kemana-mana oke sekarang kita bahas basket yang kata si penulis rumit itu.  Kalau Bola Basket entah kita menjaga daerah belakang atau yang lainnya kita tetap harus aktif bergerak. Depan, lalu ketengah, terus ke belakang... dengernya saja sudah capek apalagi kalau dilakukan oleh orang yang belum terbiasa. Bisa aku simpulkan kalau ini permainan yang pas untuk orang yang ingin berkeringat banyak. Sekarang apabila dalam prakteknya saja sudah rumit apalagi ketika penyusunan strateginya. Tiap orang harus hafal kontribusinya masing-masing karena dalam game ini prosesnya berlangsung sangat cepat. Whuss...whuss bola melayang dengan cepatnya membuat pemainnya harus lebih cekatan daripada bola itu kalau ingin menang.
Resume dari penulis permainan bola basket membutuhkan kecermatan yang istilah kerennya QUICK THINKING. (Prima SMAT-KN)

Gebyar Krida Nusantara 2013



Ini satu lagi event buat kita anak berbakat di Kota Bandung namanya Gebyar Krida Nusantara. Terutama bagi yang jago main futsal, nyeloteh bahasa Inggris, main musik, dan rapi kalau disuruh baris. Hajatan ini dilaksanakan mulai dari 11 Mei 2013 sampai penutupannya tanggal 18 Mei 2013. Semua jenjang pendidikan bisa ikut berpartisipasi dalam event ini kecuali yang belum masuk SD sama sudah kuliahan. Maksudnya acara ini dibuat untuk diikuti oleh remaja SD, SMP, dan yang terakhir SMA. Gebyar Krida Nusantara ini merupakan kegiatan puncak dari program kerja OSIS SMAT Krida Nusantara setiap tahunnya. Jadi, selain diisi dengan kompetisi remaja-remaja berbakat Kota Bandung ada penutupan yang bentuknya mirip Pensi(Pentas Seni). Cocok banget buat kamu semua yang lagi kepingin nonton konser-konser gitu, malam minggu lagi. Biasanya setiap tahun selalu mengundang Band dari ibukota contohnya tahun lalu ada penampilan dari D’ Cinammons. Dari tahun ke tahun OSIS selalu memberikan konsep yang berbeda dalam acara ini. Khusus tahun ini Gebyar dibagi dalam 4 cabang lomba yaitu Lomba Ketrampilan Baris Berbaris, English Contest, Futsal Cup, yang terakhir Garasi ( kesenian). Pesan dari penulis buat yang mau nunjukin eksistensi terutama di Bandung nggak usah bengong tunggu lama, jadilah bagian dari Gebyar Krida Nusantara !!!. (Prima SMAT-KN)

Selasa, 19 Februari 2013

Kritik Dalam Jurnalistik

               Sebuah teori mengatakan bahwa apabila terdapat dua orang manusia atau lebih pasti akan terjadi perbedaan pendapat. Semakin banyak suatu pendirian maka semakin banyak pula pro dan kontra yang hadir. Sebenarnya apabila kita memperhatikan apa tujuan seseorang mempertahankan pendiriannya ada dua alasan. Pertama berjuang agar opini yang dianggapnya benar tetap diakui kedua, bisa saja orang tersebut merasa malu bila pemikirannya diinjak-injak padahal ia telah sadar kalau apa yang telah diucapkannya benar-benar salah.

           Bermacam-macam langkah dapat kita lakukan untuk menyampaikan opini kita. Tergantung keinginan kita apakah hanya ditujukan kepada orang tersebut. Atau mencoba mengajak orang lain bertukar pikiran. Segala bentuk kritik harus kita cerna terlebih dahulu. Misalnya kepada siapa kritik itu kita berikan, cara penyampaian, maupun maksud kita memberikan kritik itu. Sebenarnya itu adalah hal yang sudah lumrah yaitu memahami situasi sekitar. Jangan sampai niat kita membangun sebuah pendapat malah dianggap mau menjatuhkan opini itu.

            Satu hal yang dapat kita lakukan untuk membangun sebuah pendapat adalah dengan memanfaatkan kemampuan jurnalistik. Bagusnya sebagian besar kritik disalurkan melalui media-media baik cetak maupun elektronik. Tapi, sebelum memanfaatkan media-media tersebut kita wajib memahami keuntungan dan kerugiannya. Masalah yang lebih pelik bilamana ada banyak orang yang mengirimkan artikelnya ke suatu media. Redaksi selalu berusaha menempatkan tulisan yang terbaik disetiap terbitannya. Sehingga banyak kiriman yang akhirnya terbengkalai di meja redaksi. Dampaknya? Sangat banyak orang yang sudah berkali-kali karyanya tidak dimuat berpikir bahwa ia tidak punya bakat menulis.

            Problematika dalam menyampaikan kritik terletak pada tidak adanya keberanian maupun kemauan. Sayang bagi orang yang tidak punya keberanian bisa saja orang itu merasa terganggu dengan situasi yang ada tetapi terhalang dengan rasa takut tersebut. Oleh karena itulah dibutuhkan kecerdasan dalam menyampaikan isi hati. Jurnalistik bukan satu-satunya jalan tapi dengan jalur ini kemampuan kita lebih diakui. Cobalah dengan hal-hal kecil seperti menulis kritik terhadap situasi yang sedang ada, kalau misalnya benar-benar belum bisa mulailah dengan membaca artikel-artikel bertema opini. Dari kegiatan yang sifatnya pasif berkembang menjadi kebiasaan yang produktif. Contoh dari artikel bertema opini adalah tajuk rencana dan surat pembaca. Bahasa yang digunakan oleh penulis-penulis tersebut berbeda dengan pandapat-pendapat yang dikemukakan secara langsung lewat mulut. Butuh bahasa-bahasa khusus yang santun, halus tapi masuk ke dalam inti bacaan.

            Untungnya lembaga pendidikan dewasa ini ikut serta dalam membekali kemampuan jurnalistik siswa-siswinya. Bentukya berupa ekstrakulikuler, seminar, sampai studi banding ke orang-orang yang memang sudah mahir. Jurnalistik sebenarnya merupakan cabang dari pembahasan materi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jadi bukan masalah apabila sekolah juga mendukung adanya kegiatan berupa pelatihan jurnalistik. Apapun yang dilakukan oleh seorang anak sekolah dalam bentuk manapun jenisnya tetap satu yaitu belajar. Belajar jurnalistik berarti melakukan sesuatu yang manfaatnya lebih dari satu. Pertama memenuhi nilai kognitif selama kegiatan belajar mengajar dikelas lalu menambah wawasan dalam hal ilmu pengetahuan di luar jam sekolah. (Prima SMAT-KN)