Oreo

Oreo
Siapa yang ngga suka Oreo?

Sabtu, 11 Januari 2020

The Way of Creating Student Involvement in Medical Education


Indonesia, needs to find good medical doctor in reaching out national prosperity. But it’s not easy to create, maintain, and improve the human resource in medical field. The education system and curriculum will play an important role. Currently Indonesia is looking for the best strategy in graduating proper medical professional. Mostly we use student-based education system in recent year. But we have to realize that there are still many things to improve. Also, controversy among lecturer which expect conservative way of study. In their opinion, student-based curriculum wasn’t effective enough.

     Me, admit that student involvement needs proactive role by student self. But the big question rises up, our students have a huge interest in these systems? A little number of professionals didn’t believe on their student totally. They have a reason, after a period of time medical student can’t prove. For example, most of student use problem-based learning (PBL) session not for discussion. Whereas PBL session was the key for medical students to manifest the student involvement curriculum. Usually students are more interested on topics which occurs highly on the community. Such as diabetes mellitus and hypertension. As they thought that they will face it directly. Actually, the medical council has decided “competency standard” for specialist or general physician. It makes every PBL mostly discusses about popular diseases. Hope it will improve student interest in studying medicine.

     After my several surveys regarding how hard for studying medicine in their own faculty. The majority said that the absence of module gives significant effect. Mainly medical school will present a guidance, for example; module. Absolutely agree. Every or almost medical school only provides a guide for laboratory practice. We saw and observe that OSCE or OSPE’s score usually higher than MCQ.  In my opinion, medical textbook must be completed by module. Especially for a book which made by European/American contributors. The module will give boundary in what topics are compulsory for medical students. So, I believe with this strategy students would be more proactive. As I have stated in the previous paragraph. One crucial requirement for building student involvement in medical education curriculum.

     Recent years, medical students are depending on lecturer’s presentation. Even though we all knew if presentation file isn’t the main focus. Presentation draft explains only the key point. Student involvement is needed by developing those key points. As far as they are willing to be active. However, the reality is strongly different. Students should be expanding more their module and presentation file which they got from the lecturer. I believe by this method, either faculty or student will finish the academic goals perfectly. Next, we all agree to emphasize all lecturers must present their reference. Could be a textbook, journal, and research that they have attached in his/her presentation file. It means that students will have the same perception with learning objectives.

     The last, my opinion about the student involvement in medical education curriculum are school architecture. It should be more positive if every medical school creates half-circle shape class. It builds better discussion among lecturer and student. Simply, the lecturer can observe all his/her student. The way of conservative teaching could be prevented (one-way communication). Also, students have a right for asking and giving their opinion during the class. Finally, we can call it appropriate path in actualizing student involvement in medical education and curriculum. (Prima Cakra, 2020)

Sabtu, 16 Februari 2019

Memetik Manfaat dari Kegiatan Pertukaran Pelajar

Sepuluh siswa SMA Terpadu (SMAT) Krida Nusantara, Bandung, tengah bersiap-siap menanti penerbangan menuju Melbourne, Australia. Mereka adalah Anggina Dwi Reswari, Helen Anastasya, Levy Almas, Alvieda Giffani, Tri Anggita, Zulfikar Caesar, Jonathan Reza, Prihartanto Nursatya, Lucky Jeremy, dan saya sendiri, Prima Cakra. Kami merupakan duta pertukaran pelajar yang terpilih dari sekolah setelah melalui beberapa tahap seleksi.
            Setelah 6 jam penerbangan dari Jakarta tibalah kami di kota destinasi, Melbourne. Di sana kamu langsung dijemput oleh orang tua asuh (guest parents) masing-masing. Seperti diplomat, kami ini mengemban nama baik negara sekaligus memikul tanggung jawab menyampaikan budaya baik bangsa. Kesepuluh duta disebar ke tiga sekolah di Kota Melbourne, yaitu PEGS, Fintona Girl School, dan Scotch Collage. Pengalaman luar biasa mulai kami rasakan.
            Bisa berinteraksi dan mempraktikkan bahasa Inggris langsung dengan sumbernya merupakan kesempatan emas dalam meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. “Selain kami yang menggunakan bahasa Inggris, mereka juga  beberapa kali memamerkan keahlian bahasa Indonesia mereka di depan kami meskipun sangat banyak terdapat kesalahan dalam tata bahasa ataupun pengucapannya,” tutur Jonathan Reza. Kebetulan, di tiga sekolah tersebut memang ada kurikulum bahasa Indonesia sebagai subjek mata pelajaran pilihan.
            Kami yang tergabung dalam program pertukaran pelajar ini mengikuti kegiatan pembelajaran sekolah layaknya pelajar di sana. Kami juga ikut merasakan kegiatan ekstrakulikuler seusai jam sekolah regular seperti sepak bola, rugby, hoki, tenis, dan sebagainya. Di luar itu, tentu saja kami juga tak menyia-nyiakann kesempatan berjalan-jalan mengunjungi beberapa destinasi wisata dan menikmati suasana Kota Melbourne Bersama siswa pertukaran dari negara lain. Duta pertukaran pelajar yang ditempatkan di Scotch Collage, misalnya, mendapat kesempatan melihat hewan-hewan khas Australia di Heasville Sanctuary dan mengunjungi tempat ditemukannya emas terbesar kedua di dunia, Soveirgn Hill.

Mengenal lebih dalam
            Tak dapat disangkal remaja saat ini sedang dilanda arus westernisasi. Apakah menguntungkan atau merugikan? Keduanya sama-sama memberikan alasan yang kuat. Namun, siapa yang tahu pandangan kita tentang kehidupan barat tidak total benarnya. Para pelajar pertukaran sudah mengalami langsung bagaimana keseharian yang dilakukan masyarakat di Kota Melbourne. Kebebasan liberal yang mereka anut terutama oleh generasi muda bukanlah tanpa batasan-batasan tertentu.
            Generasi muda benar-benar menjadi fondasi bagi kemajuan “Negeri Kanguru”. Oleh karena itu, pemerintah negeri tersebut sebisa mungkin menjaga keberadaan mereka. Jarang terlintas bahkan hampir tidak pernah ada pemuda berumur 18 tahun melakukan perilaku-perilaku yang sebetulnya hanya dilakukan orang dewasa. Mereka pun tidak malu untuk menggunakan kendaraan publik meskipun ketika sedang berakhir pekan Bersama rekan-rekannya. Hebatnya lagi perilaku itu mereka lakukan tas kesadaran mereka sendiri bukan hanya karena paksaan aturan yang mengikat.
            Upah pekerja di sana memang cukup tinggi jika dibandingkan dengan di Indonesia. Pekerjaan yang hanya dilakukan setiap akhir pean saja bila dirupiahkan bisa mencapai lebih dari satu juta rupiah. Tak mengherankan kalau banyak mahasiswa Indonesia yang tengah mengenyam Pendidikan di sana cenderung mengambil pekerjaan sampingan. Hal ini tentu menjadi pembiasaan yang bermanfaat bagi terbentuknya kemandirian.
            Dalam hal makanan, ada satu hal yang saya cermati, mereka tidak dapat membuat makanan layaknya orang Indonesia yang kaya akan rempah-rempah dan dengan teknik pembuatan yang cukup rumit. Mungkin ini juga disebabkan dinamisnya kehidupan di sana yang membuat mereka terpaksa melakukan segala sesuatu serbacepat. Untuk satu hal ini, menurut saya, kita sebagai bangsa Indonesia harus bangga memiliki variasi kuliner yang kaya dengan cita rasa.
            Bila dicermati lebih mendalam kegiatan pertukaran pelajar selama satu bulab ini sangat bermanfaat untuk membuka cakrawala, mengamati budaya positif dari masyarakat Australia yang tidak ada salahnya kita adaptasi. Tentu saja bukan hal sadap-menyadap seperti yang ramai dibicarakan di media belakangan ini, ya. Semoga saja kegiatan seperti ini bisa menjadi wahana memperkaya wawasan dan kemandirian. (Prima SMAT-KN)

Jumat, 15 Februari 2019

Cara Tepat Belajar di Asrama

Seperti yang telah diketahui bahwa kita menempuh pendidikan di sekolah berasrama. Berbicara soal cara belajar setiap orang berbeda-beda termasuk di Krida sendiri. Nah, artikel ini akan membahas tentang cara belajar sekaligus menyangkut-pautkannya dengan kehidupan siswa berasrama. Selamat membaca
  • Menyesuaikan pola pikir
Setiap orang pasti memiliki pola pikir yang berbeda-beda. Oleh karena itulah disetiap membaca dan memahami isi bacaan harus dengan kemampuan masing-masing.
  •         Sering berdiskusi dengan teman
Secara tidak langsung belajar dengan berdiskusi akan mempercepat pemahaman karena yang kita ingat bukan materi tetapi hal-hal yang kita lakukan. Lebih bagus lagi yang kita ingat ialah hal yang menarik.
  •         Fokus belajar saat jam sekolah
Salah satu masalah belajar siswa di asrama adalah kurangnya suasana belajar. Jadi manfaatkanlah kesempatan belajar di sekolah dengan maksimal. Jangan sampai tidak memperhatikan apalagi sampai tidur. Survei juga membuktikan efektifitas kegiatan belajar mengajar disekolah besarnya sampai 80%.
  •         Sering berbagi ilmu dengan teman
Jika kita memiliki ilmu alangkah baiknya dibagi-bagikan dengan teman. Kemudian sekalian kita berbagi ilmu kita juga belajar materi yang kita ajarkan. Satu lagi, ilmu yang bermanfaat adalah pahala yang tidak putus-putus. (Prima SMAT-KN)

Delegasi Handal SMAT-KN


Gedung Sate menjadi saksi perjuangan siswa-siswi SMA Terpadu Krida Nusantara meraih penghargaan Best Performance dalam lomba simulasi ASEAN (ASEAN MODEL) 2013. Sebanyak 10 siswa-siswi Krida mampu berperan apik sebagai delegasi salah satu negara Asia Tenggara. Dengan memakai pakaian laiknya orang yang terhormat ditambah dengan kefasihan berbahasa Inggris membuat semua juri kagum akan keahlian siswa-siswi Krida. Meskipun tidak menjadi juara utama dalam turnamen ini tetapi semua guru pembimbing merasa puas. Perwakilan dari SMA Terpadu Krida Nusantara ini melewati dua tahap sebelum menjadi best performance yaitu babak penyisihan yang dilaksanakan di Aula Universitas Pasundan sementara itu Gedung Sate dipercaya menjadi tempat terselenggaranya babak Grand Final. Sekali lagi SMA Terpadu Krida Nusantara menunjukan eksistensinya. Semoga saja dengan hasil ini SMA kita yang tercinta ini dikenal oleh masyarakat. (Prima SMAT-KN)

Peacekeeper

Bukan masalah bagi kita untuk dapat ikut merubah keadaan dunia meski sedang berusia muda. Apa kalian tahu 'Peacekeeper' itu? dari terjemahan bisa kita maksudkan sebagai penjaga perdamaian. Orang-orang yang tugasnya menjaga perdamaian dunia mungkin sering kita lihat dengan pakaian layaknya tentara dan helm berwarna biru. Indonesia juga ikut dalam menjaga perdamaian dunia lho! namanya Pasukan Garuda, mereka sudah dikirim ke berbagai negara mulai dari Lebanon, Mesir, Kongo, dll. Bahkan dari awal kemerdekaan tepatnya tahun 1950-an pemberani-pemberani dari negara kita sudah menunjukan eksistensinya. Peacekeeper Indonesia juga mendapat apresiasi dari PBB atas kegigihan dan kinerjanya.
Di dunia internasional peacekeeper mendapat wewenang untuk menetralkan situasi yang sedang bergejolak. Tugas mereka tidak semerta-merta langsung menerobos ke negara lain sehingga dapat menghindari yang namanya intervensi. Apa yang mereka lakukan merupakan rekomendasi dari PBB setelah berkonsultasi dengan negara yang bersangkutan atau dengan organisasi yang terkait contoh NATO atau CSTO. Peacekeeper dipilih dari berbagai negara disesuaikan dengan kualitas serta pandangan ideologisnya.
gambar dari http://www.worldrisk.cz/four-peacekeepers-killed-in-sudan-in-ambush/
Sampai saat ini Peacekeeping Indonesia yang berada diluar negeri bukan hanya menjaga perdamaian dunia dengan membawa senjata. Mereka juga menghibur anak-anak yang sedang berada dalam tekanan serta mengadakan bakti sosial daerah setempat. Sebagai contoh kemarin prajurit TNI mempersembahkan tarian-tarian tradisional tanah air di International Sultannie Scholl-Tibnin lebanon. Sehingga citra negara kita sebagai negara humanis semakin terbukti.Mereka-mereka yang berjuang memelihara perdamaian dunia rela meninggalkan tanah air tercinta demi tugas yang diemban.Bisa kita sebut orang-orang itu adalah pahlawan-pahlawan bangsa Indonesia di zaman modern ini.
Mereka-mereka yang sedang mendapat tugas di luar negeri juga bergabung dengan penjaga perdamian dari negara lain. Ternyata Peacekeeper Indonesia memiliki kekurangan dalam penguasaan bahasa dan ilmu pengetahuan. Sehingga jarang ada yang menjadi force commander. Hal itulah yang menginspirasi pihak TNI untuk memperbaiki kualitas pusat pelatihan peacekeeper. Rencananya akan dibuat markas latihan yang lebih modern dan representatif di daerah Sentul. Bagaimanapun pembangunan peacekeeping center ini merupakan bagian dari institusi yang lebih besar yaitu The Indonesian Peace and Security Center. Dengan semua usaha tersebut diharapkan bangsa Indonesia mampu semakin berkontribusi dalam menciptakan perdamaian dunia sekaligus mengangkat nama bangsa Indonesia. (Prima SMAT-KN)

Rabu, 11 Juli 2018

[Report] AMDA Conference for Asian Chapter 2018

by Muhammad Prima Cakra Randana (AMSA-Indonesia)

On 26-28 January 2018 AMDA (Association of Medical Doctor of Asia) held Conference for Asia Chapter 2018. The writer at once Liaison Officer to AMDA, AMSA International are invited to attend the event as a guest. It’s an honor for me could represent our lovely organization. AMDA Conference held in Hotel Sentral, Brickfields, Kuala Lumpur, Malaysia. Beside me Overall Chairperson AMSA International, Wong Soon Kuen also present. At this conference, AMDA would like to review the progress of their recent efforts, including Global Partnership for Sustainable Peace (GPSP) as well as AMDA Platform for Nankai Trough Earthquake Disaster, and extend these ideas to their new concept “World Platform for Disaster Medicine” which will help consolidate their footsteps in the years to come.

Participants of the conference are AMDA Headquarter, Chairperson of AMDA Chapters, partners, AMSA International, and AMSA-Japan. Activity started with the chapter’s accountability report. Every AMDA Chapter shares their activity yearly. So much positive action did by AMDA. Not only disaster relief, but also humanitarian aid for society. Second agenda was recalling AMDA’s GPSP (Global Partnership for Sustainable Peace) and their philosophy by AMDA Headquarter. Which presented by their founder. Did you know if the founder of AMSA International and AMDA is same? Yes, he is Dr Shigeru Suganami. Luckily, I have a picture with him. Third, AMDA partner such as the Fukuyama Hospital Institute give a speech regarding their association and promotion. Last but not least AMSA group (AMSA International, AMSA-Japan, and AMSA AC) are given an opportunity. Wong Soon Kuen (Ken) share about what AMSA International is, executive committee, and subsidiaries.

Selfie with dr Shigeru Suganami
In this occasion, both AMSA International and AMDA improve their partnership. Even create AMDA-AMSA relation Standing Committee. Aims to enhance cooperation and bridge relationships. The Chairperson is Dr Jongmin Lee from AMDA Korea who also AMSA Alumni. Me and Ken becomes member of AMDA-AMSA group. Furthermore, there are an update from Triple A (AMSA, AMDA, AMSA AC) Partnership Program, which presented by Dr Mami Hirota from AMDA Singapore. Nearest project will be held in Nepal. The participant is coming from National University of Singapore’s medical student. Good luck for delegates!


At welcoming dinner, everybody shows their talent. An event that writer never imagined. Everyone who involved in conference proudly presents their culture. Dancing, singing, and playing instruments. Honestly, I love the traditional song from Sri Langka. Rhythm and musical mode made me feel happy. The writer thinks it’s a big chance for cultural exchange. Beside entertainment session, the writer learns so much from a participant who definitely more experienced. They share idea how to build relationship between the association and create good partnership. Dr Sadar Abdun Nayeem from AMDA Bangladesh become moderator of the two days conference. Organized agenda and on time he managed to hold. Last, we hope AMDA could maintain even improve their positive action. What they did for society was really great. Then hope AMSA-AMDA partnership becomes stronger than before. Because we have the same dream to create a better future. Thank you very much 😊

Kamis, 21 September 2017

A Timeless Processed Fish; Pempek Palembang



Today, as usual, I woke up from my bed, prepare for college and ready to write a new story. After having personal preparation I walked into the kitchen for having breakfast. Can you guess what is my meal for today? I have 4 pieces of pempek complete with cuko, a pair of Palembang’s traditional cuisine. Simply that was a perfect formula on facing new experience, never bored on them !. Even sometimes in one day I just having pempek for completing breakfast, lunch, and dinner. In my opinion, pempek recently has transformed into staple food coupled with rice for Palembang’s citizen. You will find it so simple, pempek is sold by various segments of society either by a five-star restaurant or street vendors.
Pempek originally is made by fresh fish, sago flour, salt, and some additional ingredient depend on its type. At first, fish has to destroyed into small pieces and mix it with water, flour, and salt. It seems so easy to step on process making pempek, exactly make the taste of pempek depend with feeling skill and experience. We can make a mixture from various kind of fish starting from tenggiri, gabus, etc. Every difference of fish, a composition of flour, amount of water will create different taste even that was too little. Historically, there have been pempek in Palembang since the influx of Chinese immigrants to Palembang, which is around the 16th century while Sultan Mahmud Badaruddin II ruling Palembang Darussalam Sultanate. Pempek name believed to come from mention apek, the term for the old man Chinese descent. Based on folklore around the year 1617 a 65-year old living in Daerah Perakitan (banks of Musi River) are concerned witnessed fish catches abundant in the Musi River. The result has not been entirely put to good use, almost citizen just both frying and boiling it. The old man then tried other treatment alternatives. With fellow Chinese friend, he minced fish meat mixed with tapioca flour finally resulting new foods. The new food sold by them by cycling around Palembang city and citizen’s response was satisfying. Because pempek was vend by bicycle sometimes people were yelled “apek-apek” to making them stopping their vehicle. In the long run, most people called the new food as pempek because it spell ed repeated belong to the seller. 
Recently there are many kinds of pempek, especially after significant technology development and globalization. Every bargainer is competing on selling pempek, as much as possible gain public attention. Lenjer, Adaan, Kapal-Selam, Kulit, are some general type of pempek which has been existed, in my opinion, all of them are yummy. Might be people other than those staying in Palembang are mostly recognize Pempek Kapal-Selam, the big one therewith egg yolk. You will identify it look like shell form swimming on black water accompanied by some cucumber. Second most popular are Pempek Lenjer, simply every people if be commanded making pempek are preferred to choose it. Pempek lenjer is simple to make, the shape is long and tabulates no more additional ingredient beside primary substance. My favorite is Pempek Adaan because taste very strongly met by spice and no fishy smell at all. It has ball-shape and sometimes pempek adaan are filled by rough garlic depending on appetite. Almost pempek’s appearance are white except for Pempek Kulit who have dark gray color. Because pempek kulit are made by fish’s skin not the same as the others. If we give pempek to some cat around us maybe pempek kulit will be hotly contested because of very strong fish flavor. In health side, pempek contains a variety benefit especially because contain fish. Everyone will receive a high amount of protein, calcium, phosphor, and some vitamin which is useful for health. It also can be alternative to replace rice because sufficient carbohydrates daily need. Consumption of fish for Indonesian people classified as below average according to data. Processing fish’s resource into pempek could be the best solution for creating high attention of fish consumption.
Today people are creative on making pempek, some innovation is presented to us. Newly in Jakarta, we have heard about Pempek Hitam, created from special black charcoal which safe for our body. The idea to create a black Pempek crossed by the seller Jovita and Devi Halim (quoted from Tribune-Kaltim, December 5th, 2015). "Because our parents are from Palembang and see pempek is a traditional food that is very distinctive and also good that comes to mind to sell pempek in Jakarta, with the aim that pempek be more attractive to the public," said Jovita, owner Pempek Shinta. They said that purpose of making pempek Hitam is getting teenager’s attention to eat traditional food on leisure time. Moreover in Palembang city exactly, Pempek Krispi now being a famous name among people’s conversation. It is further development, a new variant of pempek kulit which has been discussed above. Pempek krispi has wonderful taste and tempting, the best recommendation for you who hate fish aroma. They also have very thin shape compared to another type, making us sound like eating a cracker. Hereafter pempek raw materials are not always fish, makers sometimes create it from shrimp, squid, even meatless. Yeah, the last I spell is called Pempek Dos, just consist of flour and salt. Globalization, rapid development, and economy demand have push people to be more creative.
Usually eating pempek are companies with special complement called cuko, black creature with a unique flavor. Quotes said that eating pempek is never delicious if not completed with cuko. How to make this liquid? Just need brown sugar, garlic, tamarind, chili, and salt. Cuko has a function to prevent us from nausea because of fishy taste form that pempek. Everyone recognizes cuko as weak black water with spicy-sweet sense, don’t confuse with vinegar (acetic acid) although they have the same label. Simply pempek and cuko are the best cuisines for everyone, every time, and every moment

Jumat, 26 Mei 2017

Poster Ilmiah Pertama

Kurang lebih satu setengah tahun yang lalu aku mengikuti lomba yang diselenggarakan oleh AMSA-Indonesia.  Nama acaranya adalah Indonesia Medical Student Training and Competition, tuan rumahnya adalah AMSA-Universitas Brawijaya. Jadi waktu itu aku punya yaa bisa dibilang impian kalau nanti waktu acara di Malang bakal banyak delegasi dari kampusku. Karena sedih aja misal keluar kota tapi yang nemenin dikit. Kesempatan itu adalah perjalanan keluar kota kesekian kalinya buat diriku tanpa beserta keluarga. Seneng banget rasanya bisa ke Malang, apalagi ini edisi pertamaku kesana. Singkat kata aku berusaha mengajak serta meyakinkan teman-teman kampusku untuk berangkat juga. Segala macam cara aku coba mulai dari promosi kegiatan apa aja yang bakal dilakuin, jelasin serunya explore Kota Malang, sampe cara terakhir yang diluar prediksi sih haha. Cuma jangan salah lho, justru langkah out of the box itulah yang berhasil menarik dua delegasi tambahan. Pasti ngga masuk radar perkiraan nih yaa haha. Yah, adalah dengan mengajak ikutan lomba. Orang yang ngga pernah bikin karya ilmiah tiba-tiba "maksain' temen ngehasilin


sebuah poster ilmiah. Nice Job Prima! Panjang cerita setelah berhasil "menghasut" hehehe aku beserta dua teman baikku yaitu Rizka Febriana serta Ririn Puspita ikut lomba poster ilmiah. Dengan beberapa kali diskusi baik lewat media sosial maupun ketemu langsung, lalu dibuat dalam secarik kertas digital. AKHIRNYA haha inilah hasil karya kami, makasih sebesar-besarnya buat Rizka dan Ririn yang mau nemenin buat poster ini juga nemenin jalan-jalannya di Malang. Kali pertama bikin karya yang ilmiah gini. Jujur buat aku pribadi ini merupakan pembelajaran dan pengalaman yang sangat-sangat berharga. Aku banyak belajar dari Rizka sama Ririn, btw mereka itu pinter banget lho pokoke juara kampus deh.

Terhipnotis, oleh Pangkalpinang-mu

Terhipnotis, oleh Pangkalpinang-mu
oleh Nugroho Saputro

Memang, ada apa sih dengan tanah Bangka? Apalagi ibukotanya itu tuh, Pangkalpinang? Ternyata, tanah Bangka banyak menyimpan pesona yang belum kita jamah. Sehingga, Bangka, terutama #pesonapangkalpinang nya patut dijelajahi inchi per inchi bagi wisatawan maupun pecinta traveling serta kuliner. Bangka tak hanya soal komoditas timahnya, yang menjadikan Indonesia menjadi lima besar tulang punggung dunia atas komoditas tersebut. Timah Bangka begitu melegenda. Ditemukan dalam bentuk deposit yang besar pada sekitar abad ke-18, membuat eksploitasi tambah timah menjadi booming di Bangka. Terlebih ketika negara penjajah Belanda lagi dalam keadaan “Miskin” akibat Perang Diponegoro dan juga pendudukan Napoleon, membuat Timah Bangka langsung disedot dan dikirim ke Eropa. Sehingga, perekonomian Belanda secepat kilat menjadi kuat, bahkan disegani dunia, berkat tambang-tambang yang ada di negeri ini, termasuk Timah Bangka. Namun, kita patut beruntung karena penjajah Belanda dan Jepang tidak menyedot habis deposit timah yang ada di Bangka. Karena, sampai saat ini, Indonesia masih menikmati besarnya deposit timah yang ada di bumi Bangka.

Memang ada apa sih dengan kehidupan masyarakat Bangka, terutama penduduk Kota Pangkalpinang? Dengan #pesonapangkalpinang nya, mampu membuat masyarakatnya menjunjung tinggi persatuan di dalam kebhinekaan. Etnis Melayu dan Tionghoa yang merupakan mayoritas, disusul oleh para etnis-etnis lainnya yang ada di Indonesia, cukup memberikan warna kemajemukan demografi masyarakat Pangkalpinang dan Bangka sendiri. Hal tersebut dapat terlihat dengan banyaknya rumah peribadatan yang dibangun secara berdampingan. Ketika terjadi hari-hari besar keagamaan, tak jarang seluruh masyarakat bahu-membahu mengamankan tempat peribadatan tersebut guna rangkaian acara untuk memperingati hari-hari besar keagamaan tersebut dapat berjalan dengan lancar. Malahan, sebagian warga yang beragama lain pun turut membantu mengamankan acara tersebut. Berbagai festival, seperti festival Ruwahan, festival menyambut semarak bulan Ramadhan, dan festival Barongsai menyambut Imlek, tak jarang diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang etnis dan agama. Semua lapisan masyarakat mengikuti acara tersebut dengan antusias yang tinggi. Sehingga, acara festival berlangsung dengan semarak yang atraktif dan juga lancar. Sehingga cocok menjadi tontonan yang menghibur, baik bagi masyarakat Kota Pangkalpinang sendiri maupun wisatawan yang sedang melepas penatnya di Kota yang memang penuh dengan cerita tersebut.
  
Tak hanya melulu soal toleransi agama, namun juga keseharian masyarakat Kota Pangkalpinang yang seolah tidak dapat hidup secara individualisme. Hal tersebut dapat terlihat di waktu pagi. Dimana, warung kopi menjadi semacam oase bagi masyarakat Kota Pangkalpinang untuk bercengkerama sekaligus bersosialisasi. Tak jarang, istilah ngerumpi, yang merupakan kebiasaan kaun hawa, juga berlaku bagi kaum Adam ketika kongkow-kongkow bersama masyarakat Kota Pangkalpinang lainnya. Beragam topik pun dibicarakan, biasanya merupakan pemberitaan terkini. Seperti, sepak terjang si Ahok yang merupakan putra daerah Bangka menjadi Gubernur DKI Jakarta, lalu pro-kontra soal kebijakan Ahok dalam memimpin DKI Jakarta, lalu berlanjut tentang Walikota Pangkalpinang sendiri yang konon katanya merupakan sosok yang visioner dan pernah menempuh pendidikan menengah atasnya di salah satu sekolah boarding school di Kota Bandung, dan beragam polemik sosial-masyarakat lainnya. Bahkan, Artika Sari Devi yang konon katanya merupakan putri Bangka asli pun tak luput dari perbincangan setelah ia meraih posisi 15 besar di ajang Miss Universe yang pada saat itu dihelat di Thailand. Dan, banyak topik lain yang dapat menjadi perbincangan, seperti politik, korupsi dan berbagai topik lainnya. Sehingga, tak ada salahnya bagi para turis untuk mencoba merasakan pagi di Kota Pangkalpinang dengan menyerumput kopi di warung kopi, sembari bercengkerama dengan penduduk asli Kota Pangkalpinang. Dan, menjelang jam setengan sembilan, baru warung-warung kopi perlahan-lahan menjadi sepi. Dimana, selepas kongkow-kongkow, barulah denyut nadi aktivitas masyarakat dan perekonomian di Kota Pangkalpinang menampakkan geliatnya.
  
Sebagai bagian dari cerita perjuangan kemerdekaan, rasanya tak pas jika tidak mengikutsertakan Bangka, yang merupakan tempat pembuangan para founding fathers serta pejuang nasional lainnya oleh Belanda. Namun sayang, rumah bersejarah tersebut terletak di Muntok, dimana keberadaannya cukup jauh dari Kota Pngkalpinang sendiri. Namun, bagi pecinta sejarah dan pengagum arsitektur Belanda, Kota Pangkalpinang juga menawarkan bangunan ikonik yang pasti akan dibuat terkesan. Seperti, Menumbing Heritage Hotel, dengan eksterior kolonialismenya yang kental namun kontras dengan interiornya yang bernuansa Jepang. Selain itu, ada juga Latrasee Bistro atau House of Lay. Berdiri sejak 1860, bangunan yang memadukan nuansa Melayu dan Hakka, oleh pengelolanya diusahakan agar dapat tembus sebagai Bangunan Cagar Budaya UNESCO. Jangan pula lupakan Museum Timah Bangka sebagai destinasi yang wajib dikunjungi. Dimana, wisatawan dapat mengetahui perjalanan Bangka Belitung, dari yang awalnya merupakan wilayah agraris, lalu menjadi wilayah yang bergantung kepada Timah, dan kini bermetamorfosa menjadi wilayah yang perekonomiannya berkembang pesat. Dimana, sektor sekunder dan tersier, terutama industri jasa dan pariwisata mendominasi perekonomian Bangka Belitung dan tidak lagi sepenuhnya bersandar pada Timah seutuhnya. Mengingat, masyarakat Bangka kini sadar, bahwa Timah merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui serta dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat aktivitas penambangan Timah itu sendiri bagi lingkungan.

Bangka Belitung tak hanya melulu tentang Pantai Parai yang memang sudah tersohor. Masih ingatkah dengan booming film Laskar Pelangi? Dimana, film tersebut menampilkan latar keindahan pesona Pantai Tanjung Tinggi, Pantai Tanjung Kelayang, dan SD Muhammadiyah. Namun sayangnya, objek wisata tersebut terletak di Belitung. Sehingga, perlu menyeberang laut untuk menuju kesana. Lalu, bagaimana dengan #pesonapangkalpinang nya sendiri? Sebagai kota yang terletak di pesisir, Kota Pangkalpinang menawarkan berbagai pantai yang begitu memukau wisatawan. Masih ada Pantai Pasir Padi dan Pantai Tanjung Bunga, yang menawarkan pemandangan spektakuler, tak kalah indahnya dibandingkan Pantai Parai maupun Bali yang memang sudah tersohor ke seluruh dunia. Tak hanya objek wisata semata, kedua pantai tersebut juga menawarkan resort bagi para wisatawan yang memang sedari tujuan awalnya ingin bermalas-malasan dan berlibur di Kota Pangkalpinang dan sekitarnya. Menyediakan fasilitas yang mampu membuat wisatawan merasa begitu dimanjakan, seperti hotel yang nyaman, restoran, fasilitas jetski, fasilitas diving, dan lain-lain hingga wisatawan dibuat betah. Bagi yang butuh udara segar dan pemandangan hijau, Bangka Botanical Garden dan Tamansari bisa menjadi alternatif untuk dikunjungi. Tak hanya untuk mencari oksigen, namun juga berolahraga sekaligus bercengkerama dengan masyarakat sekitar.


Salah satu tempat peribadatan yang ada di Kota Pangkalpinang. Sumber: http://poskotanews.com/cms/wp-content/uploads/2016/07/pangkalpinang-satya-budhi-700x400.jpg

Bagaimana dengan kuliner di Kota Pangkalpinang? Tak perlu pergi jauh-jauh ke Mong Kok, Hong Kong maupun ke Singapura. Bangka adalah surganya Chinese Food serta aneka oleh-oleh. Sebagai bagian dari bekas pemekaran Provinsi Sumatera Selatan dan juga banyaknya etnis Tionghoa yang telah menjadi bagian dari masyarakat Provinsi Bangka Belitung, terutama Kota Pangkalpinang, makanan berbahan ikan belida dan gurami, serta bau-bau kecap ikan, kecap asin, angchiu, kecap santa, kecap inggris, dan bumbu crot-crotan lainnya lazim ditemui. Seperti Pempek, Tekwan, Martabak Bangka, dan Mie Bangka. Namun, sebaiknya cobalah Mie Bangka saat berada di Bangka, karena keotentikan Mie Bangka tetap terjaga dan berbeda dengan Mie Bangka di daerah yang lain. Demikian juga dengan dominasi Seafood yang tak kalah nendang. Dimana, jajanan tersebut cukup banyak dijumpai di jalanan Kota Pangkalpinang itu sendiri. Selain Chinese Food dan Seafood, wisatawan juga wajib mencoba masakan melayu khas Bangka, salah satunya ialah Lempah Kuning. Walau termasuk dalam kategori Seafood, dijamin ikan bebas bau amis. Bahkan sangat enak dan terasa segar jika ikan yang digunakan langsung diambil dari laut. Terlebih lagi ditambah dengan tomat hijau dan potongan nanas, menambah rasa asam dan segar. Sehingga sangat cocok disantap dengan nasi panas, baik untuk makan siang maupun makan malam.

Puas berkeliling Kota Pangkalpinang, saatnya menjajal kuliner yang dapat dijadikan oleh-oleh dari Kota Pangkalpinang. Beragam hasil olahan buah dan seafood diolah sedemikian rupa oleh masyarakat Kota Pangkalpinang untuk para wisatawan sebagai buah tangan, seperti Keripik Singkong Riski, Abon Cabe Adinda, Piang Nanas Cap Ed, Keripik Cumi Kering Nina, Siput Gung-gung, Asinan Kelubi, Getas, Sambelingkung Ikan Kakap dan Tenggiri, serta Kemplang. Memang, kuliner serta oleh-oleh khas Bangka terkenal akan ragam pilihan. Sehingga, membuat para wisatawan bingung mau memilih yang mana. Namun, bagi pecinta cita rasa gurih, pedas, dan asam, kuliner Bangka memang patut untuk dicoba.

Memang tak semua, namun itulah #pesonapangkalpinang yang dapat memikat wisatawan. Begitu indah, seakan-akan secuil kahyangan turun langsung ke Nusantara tercinta melalui tanah Bangka. Walaupun telah puas dijelajahi, namun pada akhirnya akan membuat para wisatawan maupun traveler kembali lagi ke tanah Bangka karena telah terhipnotis oleh #pesonapangkalpinang yang tak akan terlupakan.... 

Sabtu, 15 Juni 2013

Ujian Tanda Pembuktian

Teet... bel tanda berakhirnya ujian berbunyi sudah menegurku yang masih berjuang mengerjakan soal-soal ujian. Ini hari terakhir bagi kami siswa-siswi SMA Terpadu Krida Nusantara menghadapi Ujian Kenaikan Kelas. Kebetulan di hari terakhir ini Mata Pelajaran Fisika Menjadi batu sandungan terakhir sebelum kami bisa "bernafas lega". Entah malang atau gimana? kali ini aku  si penulis tidak bisa menyelesaikan semua soal Fisika tadi. Malangnya lagi, sebenarnya aku bisa ngerjain soal itu (bukan sombong...) tapi karena waktunya nggak cukup akhirnya terpaksa nembak. Mending kita benar-benar nggak bisa kan? karena dari awal bisa langsung milih jawaban sembari membaca doa biar hokinya gede. Sudahlah apa gunanya mikirin begituan padahal tidak merubah buletan yang tadi sudah diisi.
   Begitulah prolognya sekarang penulis ingin bercerita tentang "Ujian Tanda Pembuktian". Si Penulis kebetulan pelajar liat aja tuh yang di foto background masih muka seorang siswa kan?. Hampir 11 tahun aku duduk dibangku sekolah dengan keanekaragaman ceritanya mulai pernah dapet nilai bagus terus-terusan kaya' marathon gitu sampai pernah terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Meski ada yang beda tapi di setiap tahun si penulis pasti diajarin dulu materi baru diuji ngerti atau nggak. Aku pernah ketemu sama orang yang keliatannya jarang belajar tapi selalu dapat nilai bagus. Orang inilah yang terkadang bikin iri teman-temannya. Makanya guru kita sering bilang kalau kita belajar itu yang penting bukan hasil akhir tapi usahanya. Penulis boleh dikata punya pendapat yang sama tentang itu.
   Ketika kita sudah belajar tapi hasil yang didapat mungkin tidak sesuai harapan bisa penulis simpulkan bahwa mungkin memang belum waktunya. Misal kita sudah belajar materi tentang trigonometri kemudian kita bisa menyelasaikan permasalahan itu saat belajar malam. Dengan begitu kita sudah memenuhi indikator kurikulum pembelajaran yaitu mengerti dan memahami. Disaat ujian kita salah dalam menghitung atau bagaimana itu adalah kesalahan kecil yang bisa disebut keberuntungan. Bisa dan mengerti indikator dari pembelajaran mengindikasikan bahwa kita telah lulus sebagai seorang pelajar!. Itulah pendapat dari penulis, terserah mau setuju atau tidak. Sebenarnya sih penulis tetap saja ingin dapat nilai bagus jadi tujuannya ya nilai bagus. Hmm rasanya aku kaya' menggurui gitu jadi nggak enak nih, tujuan dari dibuatnya artikel buat nunjukin pendapat aku pribadi tentang hasil akhir yang sering disebut nilai. Begitulah sampai disini ceritanya... sebelum pamit doakan penulis dapat nilai bagus di akhir tahun pelajaran 2012-2013 ini terima kasih. (Prima SMAT-KN)

Rabu, 20 Maret 2013

Basket : Strategi Quick Thinking

Baru-baru ini aku menjajal permainan bola basket yang rumit itu. Ternyata game ini tidaklah semudah seperti yang dibayangkan olehku sebelumnya. Kalau misal buat sepakbola pemain belakang atau sering disebut bek bisa bersantai-ria jika kesebelasannya sedang berada didaerah pertahanan lawan. Meski terkadang pelatih mengintruksikan beknya untuk membantu para penyerang mencetak gol. Contoh selanjutnya adalah Bulutangkis yang sering dimainkan oleh orang Indonesia, dalam olahraga ini kita sendirilah yang menentukan permainan tidak perlu mengurusi orang lain.
Pembicaraannya jadi melenceng kemana-mana oke sekarang kita bahas basket yang kata si penulis rumit itu.  Kalau Bola Basket entah kita menjaga daerah belakang atau yang lainnya kita tetap harus aktif bergerak. Depan, lalu ketengah, terus ke belakang... dengernya saja sudah capek apalagi kalau dilakukan oleh orang yang belum terbiasa. Bisa aku simpulkan kalau ini permainan yang pas untuk orang yang ingin berkeringat banyak. Sekarang apabila dalam prakteknya saja sudah rumit apalagi ketika penyusunan strateginya. Tiap orang harus hafal kontribusinya masing-masing karena dalam game ini prosesnya berlangsung sangat cepat. Whuss...whuss bola melayang dengan cepatnya membuat pemainnya harus lebih cekatan daripada bola itu kalau ingin menang.
Resume dari penulis permainan bola basket membutuhkan kecermatan yang istilah kerennya QUICK THINKING. (Prima SMAT-KN)

Gebyar Krida Nusantara 2013



Ini satu lagi event buat kita anak berbakat di Kota Bandung namanya Gebyar Krida Nusantara. Terutama bagi yang jago main futsal, nyeloteh bahasa Inggris, main musik, dan rapi kalau disuruh baris. Hajatan ini dilaksanakan mulai dari 11 Mei 2013 sampai penutupannya tanggal 18 Mei 2013. Semua jenjang pendidikan bisa ikut berpartisipasi dalam event ini kecuali yang belum masuk SD sama sudah kuliahan. Maksudnya acara ini dibuat untuk diikuti oleh remaja SD, SMP, dan yang terakhir SMA. Gebyar Krida Nusantara ini merupakan kegiatan puncak dari program kerja OSIS SMAT Krida Nusantara setiap tahunnya. Jadi, selain diisi dengan kompetisi remaja-remaja berbakat Kota Bandung ada penutupan yang bentuknya mirip Pensi(Pentas Seni). Cocok banget buat kamu semua yang lagi kepingin nonton konser-konser gitu, malam minggu lagi. Biasanya setiap tahun selalu mengundang Band dari ibukota contohnya tahun lalu ada penampilan dari D’ Cinammons. Dari tahun ke tahun OSIS selalu memberikan konsep yang berbeda dalam acara ini. Khusus tahun ini Gebyar dibagi dalam 4 cabang lomba yaitu Lomba Ketrampilan Baris Berbaris, English Contest, Futsal Cup, yang terakhir Garasi ( kesenian). Pesan dari penulis buat yang mau nunjukin eksistensi terutama di Bandung nggak usah bengong tunggu lama, jadilah bagian dari Gebyar Krida Nusantara !!!. (Prima SMAT-KN)

Selasa, 19 Februari 2013

Kritik Dalam Jurnalistik

               Sebuah teori mengatakan bahwa apabila terdapat dua orang manusia atau lebih pasti akan terjadi perbedaan pendapat. Semakin banyak suatu pendirian maka semakin banyak pula pro dan kontra yang hadir. Sebenarnya apabila kita memperhatikan apa tujuan seseorang mempertahankan pendiriannya ada dua alasan. Pertama berjuang agar opini yang dianggapnya benar tetap diakui kedua, bisa saja orang tersebut merasa malu bila pemikirannya diinjak-injak padahal ia telah sadar kalau apa yang telah diucapkannya benar-benar salah.

           Bermacam-macam langkah dapat kita lakukan untuk menyampaikan opini kita. Tergantung keinginan kita apakah hanya ditujukan kepada orang tersebut. Atau mencoba mengajak orang lain bertukar pikiran. Segala bentuk kritik harus kita cerna terlebih dahulu. Misalnya kepada siapa kritik itu kita berikan, cara penyampaian, maupun maksud kita memberikan kritik itu. Sebenarnya itu adalah hal yang sudah lumrah yaitu memahami situasi sekitar. Jangan sampai niat kita membangun sebuah pendapat malah dianggap mau menjatuhkan opini itu.

            Satu hal yang dapat kita lakukan untuk membangun sebuah pendapat adalah dengan memanfaatkan kemampuan jurnalistik. Bagusnya sebagian besar kritik disalurkan melalui media-media baik cetak maupun elektronik. Tapi, sebelum memanfaatkan media-media tersebut kita wajib memahami keuntungan dan kerugiannya. Masalah yang lebih pelik bilamana ada banyak orang yang mengirimkan artikelnya ke suatu media. Redaksi selalu berusaha menempatkan tulisan yang terbaik disetiap terbitannya. Sehingga banyak kiriman yang akhirnya terbengkalai di meja redaksi. Dampaknya? Sangat banyak orang yang sudah berkali-kali karyanya tidak dimuat berpikir bahwa ia tidak punya bakat menulis.

            Problematika dalam menyampaikan kritik terletak pada tidak adanya keberanian maupun kemauan. Sayang bagi orang yang tidak punya keberanian bisa saja orang itu merasa terganggu dengan situasi yang ada tetapi terhalang dengan rasa takut tersebut. Oleh karena itulah dibutuhkan kecerdasan dalam menyampaikan isi hati. Jurnalistik bukan satu-satunya jalan tapi dengan jalur ini kemampuan kita lebih diakui. Cobalah dengan hal-hal kecil seperti menulis kritik terhadap situasi yang sedang ada, kalau misalnya benar-benar belum bisa mulailah dengan membaca artikel-artikel bertema opini. Dari kegiatan yang sifatnya pasif berkembang menjadi kebiasaan yang produktif. Contoh dari artikel bertema opini adalah tajuk rencana dan surat pembaca. Bahasa yang digunakan oleh penulis-penulis tersebut berbeda dengan pandapat-pendapat yang dikemukakan secara langsung lewat mulut. Butuh bahasa-bahasa khusus yang santun, halus tapi masuk ke dalam inti bacaan.

            Untungnya lembaga pendidikan dewasa ini ikut serta dalam membekali kemampuan jurnalistik siswa-siswinya. Bentukya berupa ekstrakulikuler, seminar, sampai studi banding ke orang-orang yang memang sudah mahir. Jurnalistik sebenarnya merupakan cabang dari pembahasan materi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jadi bukan masalah apabila sekolah juga mendukung adanya kegiatan berupa pelatihan jurnalistik. Apapun yang dilakukan oleh seorang anak sekolah dalam bentuk manapun jenisnya tetap satu yaitu belajar. Belajar jurnalistik berarti melakukan sesuatu yang manfaatnya lebih dari satu. Pertama memenuhi nilai kognitif selama kegiatan belajar mengajar dikelas lalu menambah wawasan dalam hal ilmu pengetahuan di luar jam sekolah. (Prima SMAT-KN)